Minggu, 26 Mei 2013

PUISI

MENANTI DI SENANDUNG SUNYI 
 
Pada gelombang sepi susuri alun datar meninggi,
rentangkan waktu melarut.
Pada lorong-lorong fatwa cendikia kutapa mengeja.
Inikah takdir mengadzab dera..

Pada ngilu tulang-tulang sulbi menanti jadia melanglang tak pulang.
Aku jabia sunyi meratap purna percuma.
Tak sekelumit menyentuh lega menggema.

Jangan..
Janganlah dulu berfatullah.
Sejenaklah, biar bersamaku mengAbdullah kelak.
Kembalilah dahulu pada Fatri berjalin jari denganku Kadrimu.

Aku damba menakhoda bahtera,
menggayuh samudera mendermaga,
tambatkan ranamu Fatriku,.


TEMARAM

Entah kau ingat beberapa kata ku untai..
Entah juga bermakna.
Segalanya tulus walau purna kau cipta.

Maafkan hanya kata baiknya kuungkap.
Selebihnya adalah kau..
Disini tak berharap apa, melegamu adalah syukur.

Tentang pasir, angin laut dan ombak, 
bahkan tentang pelangi, juga tentang semua kugoreskan menari di kanvas aksara.
Maafkanlah jika terlupakan.

Tak apa..
Aku tetaplah terbang.
Walau aksaraku gontai melimbung.

Kompas jiwa menurani setidaknya mengisyarat.
Entah juga muskil serupa kuraup rengkuh pada bentang tali rasa.

Pintaku di kejauhan..
Untukmu selalulah indah..
 
  
SENYUMMU

Kau tau kubayangkan apa.?

Seulas senyum mengisi ruang ilusi, relungi jiwa telanjangi rasa tak mampu mengelak.

Ada debar menggemuruh.,
detakkan jantung rindu memagis.

Nafas mendesah.,
menganyam pesona pada senyum bersentuh mata.,

Merenda asa, jerat jiwa terbelenggu pasung..
ta ampo e...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar